Rabu, 05 Oktober 2011

Redup Kasih Raya


17 Setembar lalu
Berakhirnya suatu perjalanan
Yang terpuruk di ujung kesedihan
Dimana cinta itu di lepaskan
Saat ia mulai tumbuh dan bertunas
Tapi ia harus terpatahkan
Saat hati butuh perlindungan dan kasih sayang
Saat itu pula ia harus kehilangan
Tapi ia harus tegar
Menjalani hari tampa kasih sayang
Melalui kerikil-kerikil yang tajam
Menuju tirai ketulusan yang mungkin tersisa
Di ujung hati yang hilang


Catatan terakhir Raya setelah keputusan untuk berpisah terjadi. Memang hubungannya tak begitu lama. Hanya sekitar sepuluh bulan. Tapi bagi Raya ini lebih dari satu abad. Cukup buat Raya mengerti bagaimana mencintai. Raya mencintai nya. Sangat mencintai bahkan. Tapi Raya lebih memilih untuk ditinggalkan daripada melanjutkan pemujaannya. Raya takut akan lebih menyakiti atau bahkan nama Raya akan mesuk kedalam daftar orang yang sudah menyakiti Bara. Bara akhirnya mengabulkan permintaan Raya untuk ditinggalkan walaupun bagi Bara itu tidak mungkin. Baru saja Bara bisa dan mulai mencintai tapi harus melepaskan. begitu ucapan Raya pada catatan terakhirnya.
Sejak sepuluh bulan hubungan mereka. Raya memang kelihatan lebih menonjol menyukai Bara dibanding Bara yang terlihat biasa-biasa saja bahkan beberapa bulan setelah Raya mencoba meyakinkan, barulah Bara merasakan rasa yang sama terhadap Raya. Pilihan yang sangat berat untuk Bara. Ketika mulai merasakan keberadaan Raya kemudian belum nyata rasa cinta yang dimiliki tapi harus melepaskan.
Dipelukan terakhir Raya membisikkan sesuatu kepada Bara. Jauh dilubuk hati Raya bahwa Ia masih sangat menyayangi Bara. Tidak ada alasan yang tepat untuk Bara menerima keputusan itu.
            “ Mas, izinkan aku kembali bila suatu saat aku tidak bisa jauh darimu”. Bisik Raya
“ hmm, kenapa ini harus jadi pilihan. Disaat mas mulai menyayangi mu Ray. “ balas Bara sendu


Sesuatu tak terbendung. Memaksa keluar dari jalur yang semestinya. Hening. Sangat hening. Hanya suara angin yang terdengar. Kemudian terdengar isak tangis lembut keluar dari bibir Raya. Raya  menangis. Menangis pilu. Entah kenapa Raya merasakan berat untuk mengkhiri. Sama seperti apa yang dirasakan Bara. Mereka masih sangat menyayangi. Ucapan itu yang terus terdengar bahwa ini bukan karna sudah tak lagi ada rasa akan tetapi tak ingin ada yang tersakiti.
Luar biasa. Pilihan yang sangat sulit dan membunuh. Tapi itu yang di lakukan dua anak manusia yang pada hakikatnya  masih sangat membutuhkan. Bagi Bara tidak alasan yang tepat untuk memaksanya mengkhiri tapi lebih tidak mungkin lagi buat bara untuk tidak menuruti kemauan Putri yang sangat dikasihinya itu.
Aku saja tidak sanggup tuk membayangkan rasa sakit yang ada di relung hati keDuanya. Bagaimana mungkin keputusan ini akan membuat mereka bahagia jika ini berakhir bukan atas dasar kebencian tapi karna sangat menyayangi. Masih terngiang pesan-pesan yang datang sebelum keduanya kembali bertemu. Raya dan Bara datang dari kota yang berbeda dan bertemu di kota yang berbeda pula. Bara lahir dan datang dari kota Palembang sedang Raya datang dari kota Riau. Yang akhirnya mempertemukan keDuanya di kota pendidikan Yogyakarta. Bara adalah kakak senior Raya yang berarti Bara lebih dulu menginjakkan kaki di kota ini terlihat dari semesternya yang hampir selesai sedang Raya masih diawal.
Bara memang sudah terlihat dewasa baik penampilan maupun sikap-sikapnya yang begitu bijaksana dan berwibawa. Sesungguhnya Raya mulai menyukai nya berawal dari kepribadian Bara yang menawan hingga akhirnya menjalar keberbagai kegiatannya yang Raya juga menyukai hal tersebut.
********
Kembali mengingat kehangatan hubungan Bara dan Raya sepertinya tidak mungkin jika pada akhirnya mereka memilih untuk berpisah seperti ini.
            Sayang, mas sangat merindukanmu.
Sms Bara sewaktu mereka liburan kekampung halaman masing-masing.
            Aku juga mas, ingin cepat pulang untuk bertemu dengan mas.
Balas Raya yang juga sangat mengimpikan pertemuan dengan Bara. Tapi itu di awal liburan. Setelah hampir usai liburan, hasrat ingin bertemu tiba-tiba mereda. Rindu yang menggebu seakan-akan hilang ditelan bumi. Tak ada lagi gejolak yang memaksa untuk cepat bertemu atau hanya sekedar hasrat ingin berjabat tangan meminta maaf. Beda. Sangat berbeda menurut Bara.


Pertemuan dua sejoli akhirnya sudah didepan mata. Tapi aneh. Raya tak merasakan apa-apa. Bahkan tidak mau tahu bahwa Bara sudah sampai di kota dimana mereka dipertemukan. Sulit buat Bara terima. Bara kemudian menuntut ada apa sebenarnya sehingga perhatian dan kasih sayang yang selama ini ada. Hilang tak berbekas sama sekali. Setiap Bara bertanya melalui Nokia Blakberry nya tidak ada jawaban yang membuat Bara tenang. Bahkan Raya menjawab yang sebenarnya bukan penjelasan buat Bara.
Bara memberi Kesempatan buat mereka untuk intropeksi diri. Raya tak menggubris nya atau hanya sekedar menanggapi ucapan Bara. Bara melihat ada keegoisan di bola mata Raya setiap kali mata sayu itu Ia tatap.  Hingga akhirnya Bara meminta untuk bicara empat mata dengan Raya. Yang kemudian keputusan terakhirnya adalah mengakhiri hubungan yang tak terungkap antara Bara dan Raya. Iya, hubungan tak terungkap. Hubungan yang belum sempat mereka publikasikan kepada teman-teman mereka. ada yang mengetahui namun dapat dihitung dengan jari. Saking datarnya hubungan itu menurut Raya. Hingga Raya bisa mendiamkan hubungan mereka sampai nanti Bara siap untuk menerima kehadiran Raya. Tapi bagi Raya tak masalah karna pada hakikatnya Raya pun belum siap untuk diketahui akan keberadaan Bara. Apa kata orang nanti jika gadis manis itu menjalin hubungan setelah beberapa tahun single.
*********
Bara tak ingin terlihat cengeng didepan Raya. Bara berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan memalingkan wajah kearah yang tak terlihat oleh Raya. Tapi terlambat. Air mata Bara sudah lebih dulu menetes dipipi kiri Raya. Kesedihan Raya semakin tak tertahankan. Ia kembali memeluk erat Bara seakan tak ingin melepaskan.
“Mas tau siapa kamu Ray, jika suatu saat mas ingin kan kamu. Kamu harus terima mas lagi”. Ucap Bara menenangkan
“aku takut menyesal atas permintaan aku ini mas. Bisa jadi akulah yang akan meminta   mas untuk kembali sebelum mas memintanya”. Balas Raya meyakinkan
Sampai detik ini Bara belum menemukan alasan pasti mengapa Raya minta tuk ditinggalkan. Bara merasa ada sesuatu yang tersembunyi yang Bara tidak tahu. Tapi Bara pun tidak bisa berbuat apa-apa melainkan ikut merasa bersalah mengapa selama ini terlalu cuek kepada Raya sehingga Bara tak menyadari ada kejenuhan direlung hati Raya..
            “Atau kamu telah menemukan penggantiku yang tak memperdulikanmu?”.
Tiba-tiba Bara mempunyai pikiran bahwa Raya berpindah kelain hati.
“Astegfirullaaah! Mas. Aku itu menyayangimu mas, sejak dulu ketika mas tak menganggapku apa-apa. Bagaimana mungkin hal itu terjadi sedang aku masih butuh mas”. Rintih Raya sebab merasa Bara tak mempercayainya
***********
Seribu tanya tetap menempel lekat di otak syaraf bara. Kini hari-hari mereka berlalu tampa seorang kekasih. Baik Bara maupun Raya. Tapi keanehan pun terus terjadi. Raya bukannya bertambah cuek dan tak ambil peduli malah sebaliknya. Raya kembali perhatian terhadap Bara sama seperti di awal Raya menyukai Bara. Ada apa sebenarnya? Benarkah Raya melakukan keputusan itu karena terlalu menyayangi Bara? Ataukah benar dugaan Bara bahwa ada sosok yang menggantikannya? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Yogyakarta, 18 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar