Malam
ini hujan begitu deras mengguyur bumi, genangan-genangan air dapat aku saksikan dari jendela rumahku,
Nampak terlihat seperti mengkristal di
atas dedaunan dan diatas atap depan rumahku. Disini, diruang tengah, begitu
sepi, namun mala ini aku mencoba menyendiri, sambil menikmati pemandangan di
luar rumah yang sudah lama tidak aku saksikan.
Memang harus ku akui, bahwa
perjalanan yang selalu saja aku jalani demi tujuan dan masa depan, adalah
perjalanan yang cukup melelahkan. Tetapi syukurlah, sebab perjalanan itu mampu
memberiku banyak inspirasi, minimal untuk diriku sendiri bahkan untuk
kepentingan pendidikanku.
Entah berapa lama lagi aku
harus begini, keluar malam membuat aku jera, andai saja boleh memilih, aku
ingin seperti teman-temanku kebanyakan. Pergi pagi, siang, sore, bila malam
bersendawa dengan jemarinya, mengajak berdamai rak buku dan setiap helai
halaman dibatas garisnya.
Angin dari barat bertiup
begitu kencang hingga kedalam rumah. Beberapa aksesoris rumah yang tergantung
di dinding, Nampak bergoyang-goyang seolah ada guncanagn yang sangat dasyat
dari dalam bumi. Dedaunan yang terhempas-hempas karena dihembus angin dan
diterpa hujan. Beberapa butiran air hujan menerpa jendela kaca rumahku. Diluar
terlihat agak kasar titik hujan itu. Namun akan semakin indah jika titik-titik
itu makin menebal di jendela kaca.
Idealisku sebenarnya menolak
pada kebijakan Universitasku itu, tapi apalah daya tangan tak sampai layaknya
kata pepatah, aku butuh ruang untuk belajar kemudian mengejar dan menggapai
cita-cita luhurku, yah, cita-citaku. Tanpa pendidikan manalah mungkin aku
mencapainya.
Hari itu aku percepat
perputaran roda varioku menuju
kampus, karena ada jadwal kuliah. Berangkat setelah sholat maghrib adalah
pilihan agar tidak repot nantinya mampir kemasjid kampus. Belum jauh aku
meninggalkan rumah ada perasaan aneh yang menyelimuti, tidak lagi stabil,
sedikit bergoyang dan memaksaku untuk berhenti. Ketika ku periksa apa yang
menyebabkan hal itu terjadi.
“Astagfirullaah,..!
kenapa harus bocor lagi sih..!”. gerutuku pada motor yang aku bawa dan sesekali
memukul jok nya dengan geram.
Untuk kedua kalinya aku
begini. Tak ada pilihan lain, aku kerahkan tenaga dan mendorong pelan my motor, untungnya ada bengkel yang
tidak terlalu jauh dari tempatku mogok.
“Permisi
mas, tolong dong ban motorku diperiksa kalau cuma bocor ditambal aja tapi kalau
tidak bisa, ya wes ganti ban aja..”. ucapku pada tukang tambal ban tersebut
Akkkhhh!!!! Jam sudah
menujukkan 07.10 WIB itu tandanya pelajaran sudah dimulai, aku punya kesempatan
lima menit lagi untuk dapat ikut dalam pelajaran hari ini. Lagi-lagi aku tidak
bisa, jarak masih terlalu jauh, dengan bermotor saja aku memerlukan waktu
sekitar 5-10 menit. Mustahil jika aku tempuh dengan berjalan kaki. Aku tertunduk
lemah, menyesali keadaanku.
“Dari
kampus po mbak..?”. Tanya mas yang
sedang berusaha membuka ban motorku itu, sepertinya Dia melihat kekecewaan
diwajahku
“Baru
mau kekampus mas, tapi sepertinya ga’ jadi, lah wong masuknya jam tujuh e mas,..”,jawabku seadanya mengingat aku
masih sangat kesal
“Kenapa ga’ nge-kos aja sih mbak?, kan
enak toh, ga’ capek-capek naik
motornya..”. celotehnya lagi tidak jelas, seakan ia tak mengerti akan
kegalauanku saat ini, pikirku.
“Enak mas kalau aku orang berada, lah wong harus kerja e, noh bantu orang tua supaya bisa kuliah..!”. jawabku dengan
sedikit nada menggigit agar Dia mengerti bahwa aku tak sedang ingin diajak
ngobrol, apalagi tidak penting begitu.
Terus saja mas-nya menanyakan hal-hal yang kurang
penting karena memang bukan urusannya dan menambah kejenuhanku, untungnya ban
motorku sudah selesai diganti, jadi aku bisa cepat pergi dan melepaskan diri
dari manusia purba si tukang tambal ban itu, lengkap sudah penderitaanku hari
ini, Uggghhttt…!!
Cepat-cepat ku stater dan tancap gas untuk pulang
kerumah. Tapi ditengah perjalanan roda-roda varioku
kian melambat, bukan karena ada sesuatu tapi aku sengaja. Untuk menikmati udara
malam yang menusuk dan sejenak melepas beban hari ini. Mencoba merelakan satu
mata kuliah yang aku tidak boleh ikut ujian seperti teman-temanku yang lain
karena kehadiranku sudah kurang dari 75%. Sungguh menyebalkan! Aku ingat hari
pertama tidak masuk kuliah, itu murni kesalahanku, aku sengaja bolos cuma
karena ikut menyuarakan suara mahasiswa, menyangkut kuliah malam, kehadiran 75%
dan sebagainya. Ketidakhadiranku yang kedua dikarenakan sakit dan aku sudah
izin tapi ditolak dengan alasan bahwa tidak ada surat dokter, padahal kemarin
si jono tidak sakit tapi mengirimkan surat keterangan dokter dan Dia dianggap
izin. Aneh!. Aku tidak kedokter karena memang bukan kebiasaan anak kampung
sepertiku untuk datang kedokter bila hanya sakit demam. Karena harus memikirkan
lagi biayanya yang itu bisa diselesaikan dirumah, hanya dengan istirahat dan
minum obat demam saja. Ketidakhadiran yang ketiga dan keempat yah ini, motorku
yang bawel! Dan harus aku nikmati
karena memang ini kepunyaanku satu-satunya.
Kalau saja tiap-tiap
semester aku ketinggalan satu mata kuliah, akan jadi apa aku nantinya, kapan
aku selesai, kapan aku bisa menggantikan orangtuaku bekerja dan masih banyak
pertanyaan kapan lainnya. Lalu bagaimana jika aku berhenti?. Lebih tidak
mungkin lagi. Aku seorang pejuang, mana mungkin kenal lelah ataupun menyerah.
Aku hanya jenuh dengan sistem ini. Aku tidak bisa mengeksplorasikan diriku
dengan maksimal.
Masih terngiang dibenakku
tentang celotehku sepanjang jalan. Aku merebah kamudian sambil berselonjor
diatas kursi kayu diruang tengah, menikmati segelas teh hangat yang hampir
tidak manis karena persediaan gula dirumahku sudah habis. Mataku sayup dan
mengajakku berlayar kepulau kapuk. Beberapa kalimat masih terus aku ucapkan
untuk mengakhiri malamku yang tidak adanya bedanya dengan malam-malam kemarin,
tetap sepi.
Gejolak perjuangan yang terus
membara dalam diriku masih menggebu-gebu, walau aku sebenarnya penat berjalan
dijalan yang penuh onak dan duri ini. aku sendiri tidak mengerti mengapa
semangat perjuangan ini terus saja mendera didalam dadaku, agar selalu dan
terus berjuang, sebagai sebuah keberpihakan terhadap kebenaran. Terhadap rakyat
kecil yang selalu dikalahkan. Padahal sampai detik ini tak sedikitpun suara itu
terdengarkan, miris rasanya, tapi inilah hidup, yah. Penuh perjuangan.
Aku akan tetap kuliah dengan
segenap jiwa ragaku, pun apa-apa yang ada padaku. Sampai nanti keetika aku
lulus dan menjadi kebanggaan negeri ini meski dalm ruang lingkup kecil,
setidaknya aku bangga dan sudah membuktikan bahwa aku selalu dan akan terus
berusaha, meski satu mata kuliah menaruhku ditempat dan meninggalkanku, aku
yakin Esok masih ada waktu.
27
Januari 2012,,