Siska mengawali harinya dengan menatap fhoto Ryan yang slalu terpajang di sudut kamarnya sejak empat tahun silam. Pandangan Siska perlahan-lahan beralih ke jendela kamar, ku kira ada senyum yang akan di hadiahkan untuk ku pagi itu karna aku berada di tempat tidur Siska yang terletak di samping jendela. Ternyata tidak, aku salah, Siska sama sekali tidak menggerakkan sedikitpun bibirnya sebagai pertanda bahwa Ia ingin menyapaku dengan senyuman. Siska sahabat yang sangat aku sayangi seperti saudara ku sendiri terihat berbeda dari hari ke hari sejak perpisahannya dengan Ryan, munkin karna rindu yang mendalam, apalagi Ryan pergi tampa kabar atau hanya sekedar pamit pada Siska. Aku heran kenapa Siska masih berharap pada sesuatu yang sudah jelas tidak pasti selama dua tahun, aku pernah mendengar Siska mengucapkan sesuatu yang ku kira itu isi hatinya
“Chik, kamu harus tau, tak mudah bagiku melepaskan apalagi melupakan orang yang telah membahagiakan aku, sekalipun pada akhirnya hanya luka yang Ia sisa kan padaku.” Ucap Siska padaku waktu itu di iringi dangan butiran air mata.
Aku hanya menatap sahabatku pilu, aku kasihan padanya, munkin karna Siska sahabatku jadi aku ikut merasakan sakit yang Ia rasakan.
“kaa.” Sapa ku pelan
Tampa menoleh sedikitpun siska terlihat memaksa bibir tipisnya tuk tersenyum
“Kira-kira Ryan lagi ngapain ya chik? .” bukannya menjawab malah bertanya
Aku kaget. Aku kira sudah ada sedikit kebencian di hati Siska, ternyata Dia masih sangat perhatian pada Ryan seperti dulu.
“Busssyettt!!!, pagi-pagi gini kamu udah kepikiran Ryan ka? .” tanyaku
“Entahlah chik, aku kok ga bisa sedikitpun lupa ya ma Ryan, atau benci karna telah menyia-nyiakan aku begitu saja, huffttttt, aku tetap merindukannya chik. ” Sahut Siska dengan helaan nafas.
“Hmm,” aku ikut menghela nafas
aku fikir ini akan serius lalu ku paksa tubuh ku yang sedikit gemuk untuk bangun, ketika aku sudah duduk tepat di hadapan muka Siska, lalu aku lanjutkan ucapanku yang sempat terputus.
“Aku tidak tau banyak tentang cinta ka, jadi aku tidak bisa tau rasa yang kamu punya tapi aku pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan, aku juga pernah di tinggalkan oleh seseorang, namanya Agam, ia pergi juga tampa alasan bahkan belum sempat kami memastikan hubungan kami dengan jelas. tapi hati ku tidak sebaik dan selembut kamu ka, hanya dengan hitungan hari Agam sudah tak ku ingat lagi, bahkan banyak orang yang telah aku buang begitu saja setelah Agam. Yah, Aku harap kamu bukan orang yang sepertiku, kamu harus yakin pada diri dan cintamu ka, berharaplah cinta akan mempertemukan kalian lagi.” Ucapku so sweet
“he he he, Apa?? Ulangi donk ucapanmu barusan. Bisa juga kamu bilang cinta? Hahaha, ga Pantessss!!!.“ melempariku bantal lalu pergi
Siska pergi sambil senyam-senyum,walaupun ku tau kalau senyumnya itu bukan karena wajah Ryan masih terbayang-bayang tapi pasti karena ucapan ku barusan. Tak apa-apa asal kan ku masih bisa menjadi penyebab wajah manis itu tersenyum. Siska memang slalu begitu saat aku berkata puitis atau sedikit menyinggung cinta Ia slalu tersenyum mengejek. Padahal aku juga perempuan tapi Siska adalah orang pertama yang tak mau mengakuinya. Sepeninggal Siska aku ikut tersenyum, merasakan senang bisa melihat sahabat ku tersenyum. Tak lama kemudian handphone Siska berbunyi, menandakan bahwa ada sms. Semula aku cuek tapi lama kelamaan aku jadi iseng mau tau itu sms dari siapa, aku raih Hp tersebut dan memencet tombol pembuka kunci nya, tapi gagal. Hp nya tetap terkunci, ini karna aku tidak tau cara membuka kunci Hp Blackberry. Hati ku menggerutu tapi tetap berusaha dan yeah aku berhasil. Langsung saja aku buka sms yang masuk.
“Pagi sayang!
Apa kabar setelah tiga tahun aku tinggalkan?
Sekarang aku ada di Indonesia, aku mau ketemu kamu nanti jam 03.00 sore di tempat biasa. Itupun jika kamu masih ingat aku
Wslm, Ryan .” Pesan singkat dari Ryan
Seketika mataku terbelalak, tidak menyangka dan tidak percaya pesan yang aku baca barusan adalah pesan dari Ryan, orang yang di cintai Siska selama empat tahun dan meninggalkannya selama tiga tahun, tiba-tiba datang ingin bertemu. Aku emosi baca pesan itu, aku berfikiran negatif padanya. Aku tidak habis fikir akan hal itu tapi belum sempat berfikir panjang Siska pun sudah selesai mandi dan lagi-lagi membuatku kaget. Aku memandang Siska tajam, dan aku bingung pesan ini aku perlihatkan atau ku hapus saja dan berkata tidak ada sesuatu yang terjadi, dengan begitu Ia tak lagi dapat di ganggu oleh Ryan, Siska pun tak lagi berharap banyak. Belum selesai aku memutuskan akan aku beri tahu atau tidak tapi, plakkkk!!! Hp yang tadi ku pegang erat di ambil paksa oleh Siska, aku hanya mengulurkan tangan kaku tak bergerak, aku tidak tahu harus berbuat apa, aku semakin bingung. Ingin ku rebut kembali Hp itu tapi itu milik Siska dan aku tidak punya hak untuk itu, diam. Hanya itu yang dapat ku lakukan, tapi pikiranku berkecamuk
“Eh, hmm hmm eeeee.” Aku gugup, tak sepatah kata pun dapat terucap
Akhirnya aku membiarkan Siska melihat dan membaca pesan itu. Awalnya Siska biasa-biasa aja ketika merebut Hp miliknya di tangan aku, bahkan Ia tersenyum setelah berhasil, lalu sesekali mengejekku.
“Ada apa sih kok tegang gitu. Hahaha.” Tawa Siska
Siska pun penasaran lalu memencet tombol Hp nya dan pesan Ryan tertera jelas disana karna aku belum sempat menutup pesan itu. Aku hanya pasrah dan menyaksikan reaksi Siska. Kulihat mata Siska tak berkedip, munkin Ia lebih kaget lagi. Lama. Lama sekali Siska terdiam dengan tak bergerak sedikitpun. Aku mulai khawatir, jangan-jangan Siska mau pingsan. Akupun memperbaiki posisi agar sewaktu-waktu saat Siska akan tumbang aku siap menahannya. Takdir berkata lain, Siska tidak jadi pingsan, hanya saja perlahan aliran sungai kecil mulai membasahi pelupuk matanya. Aku terharu, tapi tetap tak berbuat apa-apa. Aku membiarkan Siska menikmati tangisnya,karna aku tau itu tangis kerinduan. Baru ku teringat bahwa Siska ada kuliah jam 08.00 pagi itu, aku tidak mau Dia meninggalkan satu mata kuliah pun, ku paksa diriku untuk mengingatkannya. Aku pun mendekati Siska dan memeluk nya hangat
“kaa, aku sayang kamu. Kamu ga boleh larut dalam kesedihan. Udahan ya nangisnya. Kamu ada kuliah jam 08.00 dan kamu ga boleh bolos, jadi kamu siap-siap kuliah. Masalah ini kamu fikirkan nanti. Masih ada waktu.” Bisikku pada Siska
“ya chik, maksih ya udah slalu ada buat aku. Aku juga sayang kamu.”
Aku pun melepaskan pelukanku dan meghapus airmata Siska, lalu Siska pun siap-siap, aku tersenyum melihatnya dan didalam hati aku kembali berguman
“Aku bangga atas kesabaranmu ka.”
********
Waktu menunjukkan pukul 02.00 siang.
Aku kunci mulutku untuk tidak bertanya pada Siska tentang keputusannya, apakah Ia akan menemui Ryan di tempat yang sudah di tentukan sebagai mana pesannya atau mengabaikannya. Satu-satunya jalan agar aku tau keputusan Siska adalah dengan datang ke tempat tersebut diam-diam, yah diam-diam tampa sepengetahuan Siska maupun Ryan. Aku pun segera menuju kesana lebih awal agar bisa mencari tempat yang tak terlihat oleh mereka.
Sesampainya aku disana, aku langsung memiih tempat duduk di pojok, lebih aman fikirku. Akupun duduk ditemani dengan segelas air minum, sesekali aku melirik ke pintu masuk, siapa tau Ryan ataupun Siska sudah datang. Selang beberapa waktu ku lihat Ryan datang dengan kemeja putih seputih kulitnya. Rapi, sangat rapi menurutku. Mataku tak berkedip melihat ketampanan Ryan setelah tiga tahun tak muncul.
“Subhanalaah Ryaaan!, tampannya kau.” Bahasa batakku ku tiba-tiba muncul tampa aku sadari
Cukup lama Ryan duduk di bangku yang tak jauh dari tempatku berada hanya saja ada dinding tipis yang memisahkan sehingga Ryan tak mudah melihatku, Siska pun tiba, pasti dengan wajah anggun nya. Kulihat Siska turun dari mobil jazz nya denga santai. Tiba-tiba Ryan berdiri kaget munkin juga deg-degan, aku seperti sedang menonton layar lebar, bukan aku yang bermain tapi aku yang deg-degan setengah mati.
Belum sempat Siska masuk ke cafee tesebut Ryan sudah berlari, tepat di hadapan pintu ketika tangan Siska ingin mendorong pintu masuk, tangan ryan pun menarik pintu itu sehingga bertemulah ke duanya, tampa pikir panjang Siska melebur kedalam pelukan Ryan dengan deraian airmata. Tampa sadar mataku panas pertanda ia juga akan mengeluarkan airmata, aku membiarkan airmata ku mengalir sebagai tanda aku pun bahagia atas kepulangan jiwa sahabatku.
“Maafkan sis, aku tak bermaksud meninggalkanmu atau pun membuatmu sakit, maaf.” Bisik Ryan samar-samar dalam pelukan eratnya pada Siska
Siska perlahan melepaskan pelukannya dan menatap dalam wajah Ryan, ku tahu mata itu memberitahukan bahwa rindunya tak mampu terbendung lagi.
“Usstttt.” Ucap Siska sambil melengketkan jari telunjuknya pada bibir Ryan
“Tutup mulutmu dari pengucapan maaf, bukan aku tak mau memaafkan tapi hati ini tak pernah menyalahkan”. Lanjut Siska dan kembali memeluk erat jiwanya.
Ryan tertegun mendengar penjelasan Siska bahwa Ia tak menyimpan sedikitpun dendam atau hanya sekedar perasaan marah.
“Mengapa kamu tidak marah sis, atau membenciku karna meninggalkanmu tampa kepastian dan tak pernah memberi kabar sedikitpun. Sekarang aku malah datang lagi padamu tampa memikirkan sakitnya kamu.”
Siska menatap mata Ryan lekat-lekat lalu menjawab,
“Karna aku tau kamu punya alasan yang kuat untuk melakukan hal itu.” Sahut Siska pelan dengan senyuman.
Aku pun tersenyum menyaksikan sahabat ku bahagia. Ingin ku berlari memeluknya juga tapi aku tak ingin mengganggu mereka, lalu ku nikmati kebahagiaan sahabatku dari kejauhan. Sekilas aku teringat pada seseorang yang juga menyia-nyiakanku, ku fikir mungkin Agam juga punya alasan yang kuat seperti Ryan mengapa Ia mengabaikanku sebelum suatu hubungan pasti terjalin. Aku kembali menulis untuk Agam di tengah-tengah kebahagiaan sahabat ku dan dalam kerinduanku
Semoga kebahagiaan slalu menemani sahabatku juga aku, satu kata penutup untuk Agam, bahwa aku masih menunggumu….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar