Rabu, 05 Oktober 2011

Gadis Mesir Bernama Rafa


                 “Dasyat!”
Hanya ucapan itu yang mampu di bisikkan bayu saat melihat sosok yang ada di atas panggung tadi. Tak henti nya ia memandang wajah itu. Tatapan kagumnya tak berubah mengantarkan gadis itu turun dari panggung dan duduk tepat di sudut kursi yang ada di hadapan Bayu. Ku perhatikan Bayu. Matanya tak juga beralih pandangan. Dalam hati aku pun tak memungkiri bahwa gadis itu memang cantik.

            “Hei, kau tertarik ya pada gadis itu”. Tepuk Roy pada pundak Bayu yang membuatnya sedikit terkejut.
“Eh. Kau Roy”. Jawab  Bayu lalu melanjutkan ucapannya
“Kau lihat lah dia Roy. Cantik. Anggun. Sempurna. Layaknya gadis Mesir”. Jelas Bayu
“Halah…kau ini bay, kalau ngeliat cewek aja melotot, ga’ takut po di tinggalin lagi? Hahhaha”. Gelak Roy
“Itu mah lain lagi kali Roy, sudah ah ga’ usah di bahas! Hahha” sahut Bayu dengan tawa
Bulu mata yang indah, bibir tipis dan lesung pipi membuat gadis itu layaknya gadis mesir seperti ucapan bayu. Selang beberapa waktu seseorang berjalan bersama gadis itu untuk berkenalan dengan semua yang ada di sana tampa terkecuali termasuk Bayu. Rafa. Yah Rafa, begitu samar-samar aku dengar Ia menyebut nama nya. Keramahan yang dimiliki gadis itu membuatnya begitu cepat akrab dengan semua yang hadir pada PENSI (pentas seni) yang di adakan setiap dua minggu sekali di salah satu Cafee di kota Yogyakarta.

* * * * *
            “ Saya rasa dari mana kita berasal bukan soal Raf, tapi bagaimana kita menerima yang kadang banyak di pertanyakan. Seperti yang kamu katakan tadi, pesona itu tidak akan hilang jika kita sirami dengan air syukur dan kita tempatkan pada tempat penerimaan apa adanya. Begitu saja kan Ok !”. jelas bayu pada pertemuan PENSI di malam selanjutnya.
Sejak pertemuan dan perkenalan saat itu Bayu dan Rafa semakin dekat bahkan aku pernah mendengar kalau si Rafa meminta Bayu menjadi Abangnya. Sejak saat itu setiap kali mereka bertemu diskusi demi diskusi di lakukan. Rafa pun nyaman dengan keberadaan Bayu bersamanya. Banyak hal yang Rafa dapat dari Bayu, mulai dari Ilmu pengetahuan, pertemanan, keluarga bahkan hubungan dengan lawan jenis. Rafa bilang Dia bukan dari keluarga berada. Bukan pula dari keluarga yang berpendidikan tapi Rafa bertekad untuk melanjutkan kuliah. Diam-diam aku mengagumi semangat Rafa dan di mata Bayu juga sepertinya memancarkan binar-binar kasih tapi itu adalah rasa sayangnya terhadap adik sendiri karna Rafa pun tak pernah menganggap Bayu lebih dari seorang Abang.
Persamaan pendapat atau persetujuan terhadap argument Bayu sudah biasa aku saksikan tapi kali ini beda. Beda dari apa yang pernah bahkan sering aku perhatikan. Kali ini Rafa punya pendapat yang berbeda dengan Bayu. Rafa berpendapat bahwa kekurangan dalam diri manusia adalah pasti bahkan suatu keharusan. Rafa pun mengatakan kekurangan itu bisa di terima bagi mereka yang mampu.
            “ Saya kurang sepakat bila di katakan kekurangan itu sebagai keharusan karna setahu saya manusia itu diciptakan paling sempurna oleh Tuhan di antara makhluk lainnya. Mungkin adanya kekurangan untuk keseimbangan agar segalanya teratur dan tak lebih, mungkin. “. Sanggah Bayu dengan memakai akhiran “mungkin”, itulah sebabnya mengapa Rafa mengatakan Bayu bijak dan malindungi
Kemudian Bayu melanjutkan ucapannya
            “ Nah, bicara mampu, saya rasa setiap orang mampu Raf, hanya tinggal mau atau tidak menjalani garis tersebut”. Jelas Bayu dengan mantap
“ Maaf lho Bay, aku mengatakan seperti itu yang aku maksud manusia dan manusia, manusia dan Tuhan. Bukan manusia dan makhluk yang lain. Tapi aku setuju dengan yang kamu katakan bahwa semua manusia itu mampu tergantung mau atau tidak, hmmm kamu itu bay, slalu saja punya ide yang dasyat!”. Jelas Rafa lagi
            “Iya, tapi yah tidak menjadi keharusan, akhirnya bertabrakan dengan kata keadilan Tuhan Raf, karena pada hakikatnya semua sejajarkan?, nah bingung saya, bagaimana jika akhirnya dikatakan keharusan kemudian untuk apa pilihan? Kesempatan Raf?, umm saya pernah mikir hal ini, yah masih sangat bingung. Hadeh!”. Terlihat Bayu kembali menyanggah pendapat Rafa yang menurutnya membingungkan.


“ keharusan kekurangan tidak sama Bay dengan pilihan, pilihan itu untuk sesuatu hal yang akan kita lakukan, dan kesempatan juga sangat jelas berbeda dengan kaharusan. Kiekegard seorang pencetus aliran di Filsafat mengatakan bahwa “Ada” mendahului “Fikiran”. Kita ada dulu baru berfikir dan kita akan tetap ada walaupun tidak berfikir. Bagitu juga dengan Kekurangan dan Kesempatan. Kekurangan dulu yang ada baru kesempatan, dan kekurangan akan tetap ada walaupun kesempatan tidak ada. Ini juga menurut aku kok bay, he he he”. Panjang lebar Rafa menuturkan pendapatnya.
Wajah Bayu dan Rafa terlihat serius atas perbedaan pendapat mereka tapi akhirnya Bayu terdiam, mungkin masih ada kebingungan dalam fikirannya yang tidak di sampaikan kecuali tersenyum kagum pada Rafa. Akhirnya mereka lanjutkan lagi dengan bercanda, tertawa bersama. Akupun ikut bahagia melihat hubungan positif yang mereka tuangkan pada kehidupan. Sangat jarang sekali di masa kini aku khususnya menemukan hubungan lawan jenis yang begitu positif. Sekarang di hadapan mukaku hal itu aku dapati lagi.
* * * * * *
Sejak kedekatan mereka berdua aku merasa ada yang lebih penting daripada kuliah atau apalah namanya. Aku lebih senang memperhatikan mereka yang tidak aku dapati di bangku kuliah dan skripsi. Aku lebih senang mendengar setiap bait-bait percakapan mereka atau hanya sekedar melihat keanggunan Rafa yang baik hati.
            “Positif thingking Raf, jangan beri ruang untuk bersedih, kalaupun bersedih cobalah buat tersenyum, karna senyum itu menawarkan segalanya”. Nasehat Bayu suatu ketika kepada Rafa
            “ hmm, J Abang aku yang satu ini emang paling bisa buat aku nyaman, tetaplah menjadi Bayu yang begini”. Puji Rafa setiap kali mendengar ucapan Bayu yang bijak
            “ Mulai berlebihan ah, anggaplah saya seperti apa yang kamu mau Raf. hmm jadi apapun bagi saya sama aja, santailah senyaman kamu aja. Kamu ini unik ya “two thumbs up” Raf. Kenapa kok mesti jadi Abang dulu? Penasaran saya, hahha”. kemarin Bayu menamakan Rafa gadis mesir dan sekarang gadis unik. Menurutku apa saja sebutan untuk Rafa semuanya indah
            “Bay, coba kamu menulis lagi deh, aku kan pengen baca tulisan kamu. Tulis yah?”. Terlihat Rafa meminta dengan manja kepada Bayu agar Bayu menulis.


Bayu tak dapat mengelak dari permintaan Rafa, adik angkat yang baru saja Ia kenal tapi cukup untuk meyakinkan bahwa Rafa gadis baik-baik dan bisa menjadi adik yang baik pula. Waktu yang singkat tak memberi kesempatan untuk menulis dengan lengkap. Acara telah berakhir itu berarti semua harus bubar. Kertas tempat Bayu menulis kemudian di sobeknya lalu di buang ke tempat sampah. Aku tak melihat Rafa mencegahnya mungkin Rafa faham maksud Bayu setelah menjelaskan alasan Bayu membuang tulisan yang tidak selesai itu.
Setelah semua pulang, barulah aku beranjak dari tempat duduk tapi langkah ku terhenti. Mata ku tertuju pada setumpuk kertas bersama kantong-kantong yang sudah tidak di gunakan lagi di sebuah tempat sampah. Aku urungkan niat ku untuk melanjutkan langkah kaki. Aku malah berbalik kearah tong sampah dimana kertas itu tergeletak. Kertas itu memaksaku untuk mengambilnya dan rasa penasaran pun berkecamuk difikiranku. Ingin tahu ucapan apa yang Bayu sampaikan pada gadis itu.

“ Mengapa Tuhan menitipkan pesona padanya?
Di antara remang lampu ia tersenyum anggun,
Bersinar atas apa yang ada, membacakan sajak-sajak yang ia tulis,
Ia tak ingin di telanjangi atas sajaknya.
Tak ingin pula sajaknya tak sampai pada tempatnya,
Retorika baru atas kebimbangan sang hawa menelusuri pola,
Tapi bagi saya pancarannya bagai gadis mesir
Yang hendak melangkah kerumah Tuhan,
          Kau mungkin sesuatu yang biasa, Tapi tak biasa diwaktu itu,
          Isyarat mu lebih dari yang kuketahui.
Berpijarlah hai gadis mesir dalam kesederhanaanya,
Dalam cerita yang kau rangkai,
Dalam mimpi yang kau lalui,
Tuk menepati jalan yang semakin hari semakin panjang
Dan tak pernah usai...”

Aku tertegun melihat bait-bait Puisi yang di goreskan Bayu dalam beberapa saat. Aku acungi jempol buat Bayu kalau berbicara soal mengarang. Bayu memang sangat pandai merangkai kata.
* * * * *
Pagi ini aku lihat Bayu sudah ada di Cafee, tempat biasa aku mencuri pembicaraan Rafa dan Bayu. Untungnya ini adalah masa liburan sehingga aku tidak perlu meninggalkan kuliah ku hanya untuk menyelesaikan tulisanku tentang gadis unik bernama Rafa itu.
Kalau hari kemarin Rafa bercerita tentang dirinya kepada Bayu pagi ini beda. Bayu lah yang mulai membuka tirai demi tirai kehidupannya.
            “ Saya bukan datang sebagai orang baik seperti yang kamu katakan Raf, 6 bulan kemarin mungkin fase terbesar ketika saya hidup saat ini, berbagai pesoalan, dari keluarga, hubungan asmara, hubungan pertemanan. Segalanya bisa datang tak henti di waktu yang sama dan luar biasa rasanya, hmmm kemudian terlintas di pikiran saya untuk membiarkannya dan berjalan apa adanya. Banyak Raf, sangat banyak yang memotivasi dan banyak juga yang menjatuhkan. Itu kenapa saya bilang yang lemah dan kuat bahwasanya kita sama, yang membedakan itu mau. Entah apa, entah Tuhan merancang pertemuan kita atau apapun. Tapi saya banyak belajar dari kamu. Saya mungkin lebih beruntung dari kamu, tapi secara proses saya jauh dari kamu Raf. Yah maaf bila saya diam-diam mencuri tiap semangat orang. siapapunlah yang saya temui. Berinteraksi dan belajar lebih. Sesungguhnya ketika kamu bertanya banyak hal dan saya memberikan pernyataan. Mulai dari tatapan kosong atau ruang kesedihan itu, saya sedang berbicara dengan diri sendiri. Sungguh saya tak bermaksud mengajari atau mengajarkan, justru banyak hal yang saya sadari dari yang saya katakan padamu Raf.”. jelas Bayu panjang lebar
            “Dan intinya perkataan-perkataan kamu itu buat dirimu sendiri?”. Rafa angkat bicara
            “yah, buat aku sendiri dan syukur bila bisa mamfaat buat kamu. Saya belajar untuk lebih memahami setiap hal, sembari saya berinteraksi dengan kamu, saya mengingatkan diri saya. Itulah kenapa saya bilang saya mencuri bayang-bayang semangatmu”. Lanjut Bayu sambil sesekali melirik jarum jam Canel yang melingkar di tangannya
Rafa hanya tersenyum mendengar semua cerita Bayu, Rafa merasa bangga ternyata Bayu sangat percaya padanya sehingga semua permasalahan yang Bayu punya di ceritakan kepada Rafa. Aku yang menyaksikan hal tersebut merasa iri. Bahwasanya aku juga memiliki keinginan seperti Bayu yaitu berteman dekat dengan gadis seperti Rafa.
            “ Jangan takut untuk dekat dengan aku Bay, aku ga’ bakal nyakiti kamu. Kalaupun kamu salah aku maafkan dan kalau aku yang salah maka maafkan juga. Bukankah kita saudara J ”. ucap Rafa mengakhiri ceritanya hari ini
Tadi aku sempat mendengar bahwa Bayu belum berani untuk kembali dekat dengan perempuan. Bisa aku tebak bahwa Bayu mungkin pernah di sakiti sehingga sulit untuk mengulangi hal itu lagi dan untungnya Rafa menenangkan Bayu dengan mengatakan mereka hanya saudara.
Begitulah hari-hari yang aku lalui. Melihat, mendengar, merekam. semua peristiwa-peristwa yang terjadi antara Rafa dan Bayu. Meskipun sesekali aku harus meninggalkan mereka karna harus menyiapkan menu untuk tamu-tamu yang hadir di Cafee ku ini. Aku akan slalu menanti cerita-cerita selanjutnya dari mereka. Sebenarnya mereka dua insan yang serasi namun apa yang aku fikirkan tidak sama dengan yang mereka lakukan. Mereka lebih tau yang terbaik, gumanku.

Riau, 16 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar