Sabtu, 05 Mei 2012

Celoteh Orang Pinggiran


Malam ini hujan begitu deras mengguyur bumi, genangan-genangan  air dapat aku saksikan dari jendela rumahku, Nampak  terlihat seperti mengkristal di atas dedaunan dan diatas atap depan rumahku. Disini, diruang tengah, begitu sepi, namun mala ini aku mencoba menyendiri, sambil menikmati pemandangan di luar rumah yang sudah lama tidak aku saksikan.
Memang harus ku akui, bahwa perjalanan yang selalu saja aku jalani demi tujuan dan masa depan, adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Tetapi syukurlah, sebab perjalanan itu mampu memberiku banyak inspirasi, minimal untuk diriku sendiri bahkan untuk kepentingan pendidikanku.
Entah berapa lama lagi aku harus begini, keluar malam membuat aku jera, andai saja boleh memilih, aku ingin seperti teman-temanku kebanyakan. Pergi pagi, siang, sore, bila malam bersendawa dengan jemarinya, mengajak berdamai rak buku dan setiap helai halaman dibatas garisnya.
Angin dari barat bertiup begitu kencang hingga kedalam rumah. Beberapa aksesoris rumah yang tergantung di dinding, Nampak bergoyang-goyang seolah ada guncanagn yang sangat dasyat dari dalam bumi. Dedaunan yang terhempas-hempas karena dihembus angin dan diterpa hujan. Beberapa butiran air hujan menerpa jendela kaca rumahku. Diluar terlihat agak kasar titik hujan itu. Namun akan semakin indah jika titik-titik itu makin menebal di jendela kaca.
Idealisku sebenarnya menolak pada kebijakan Universitasku itu, tapi apalah daya tangan tak sampai layaknya kata pepatah, aku butuh ruang untuk belajar kemudian mengejar dan menggapai cita-cita luhurku, yah, cita-citaku. Tanpa pendidikan manalah mungkin aku mencapainya.
Hari itu aku percepat perputaran roda varioku menuju kampus, karena ada jadwal kuliah. Berangkat setelah sholat maghrib adalah pilihan agar tidak repot nantinya mampir kemasjid kampus. Belum jauh aku meninggalkan rumah ada perasaan aneh yang menyelimuti, tidak lagi stabil, sedikit bergoyang dan memaksaku untuk berhenti. Ketika ku periksa apa yang menyebabkan hal itu terjadi.
Astagfirullaah,..! kenapa harus bocor lagi sih..!”. gerutuku pada motor yang aku bawa dan sesekali memukul jok nya dengan geram.

Untuk kedua kalinya aku begini. Tak ada pilihan lain, aku kerahkan tenaga dan mendorong pelan my motor, untungnya ada bengkel yang tidak terlalu jauh dari tempatku mogok.
“Permisi mas, tolong dong ban motorku diperiksa kalau cuma bocor ditambal aja tapi kalau tidak bisa, ya wes ganti ban aja..”. ucapku pada tukang tambal ban tersebut

Akkkhhh!!!! Jam sudah menujukkan 07.10 WIB itu tandanya pelajaran sudah dimulai, aku punya kesempatan lima menit lagi untuk dapat ikut dalam pelajaran hari ini. Lagi-lagi aku tidak bisa, jarak masih terlalu jauh, dengan bermotor saja aku memerlukan waktu sekitar 5-10 menit. Mustahil jika aku tempuh dengan berjalan kaki. Aku tertunduk lemah, menyesali keadaanku.
“Dari kampus po mbak..?”. Tanya mas yang sedang berusaha membuka ban motorku itu, sepertinya Dia melihat kekecewaan diwajahku
“Baru mau kekampus mas, tapi sepertinya ga’ jadi, lah wong masuknya jam tujuh e mas,..”,jawabku seadanya mengingat aku masih sangat kesal
            “Kenapa ga’ nge-kos aja sih mbak?, kan enak toh, ga’ capek-capek naik motornya..”. celotehnya lagi tidak jelas, seakan ia tak mengerti akan kegalauanku saat ini, pikirku.
            “Enak mas kalau aku orang berada, lah wong harus kerja e, noh bantu orang tua   supaya bisa kuliah..!”. jawabku dengan sedikit nada menggigit agar Dia mengerti bahwa aku tak sedang ingin diajak ngobrol, apalagi tidak penting begitu.
Terus saja mas-nya menanyakan hal-hal yang kurang penting karena memang bukan urusannya dan menambah kejenuhanku, untungnya ban motorku sudah selesai diganti, jadi aku bisa cepat pergi dan melepaskan diri dari manusia purba si tukang tambal ban itu, lengkap sudah penderitaanku hari ini, Uggghhttt…!!
Cepat-cepat ku stater dan tancap gas untuk pulang kerumah. Tapi ditengah perjalanan roda-roda varioku kian melambat, bukan karena ada sesuatu tapi aku sengaja. Untuk menikmati udara malam yang menusuk dan sejenak melepas beban hari ini. Mencoba merelakan satu mata kuliah yang aku tidak boleh ikut ujian seperti teman-temanku yang lain karena kehadiranku sudah kurang dari 75%. Sungguh menyebalkan! Aku ingat hari pertama tidak masuk kuliah, itu murni kesalahanku, aku sengaja bolos cuma karena ikut menyuarakan suara mahasiswa, menyangkut kuliah malam, kehadiran 75% dan sebagainya. Ketidakhadiranku yang kedua dikarenakan sakit dan aku sudah izin tapi ditolak dengan alasan bahwa tidak ada surat dokter, padahal kemarin si jono tidak sakit tapi mengirimkan surat keterangan dokter dan Dia dianggap izin. Aneh!. Aku tidak kedokter karena memang bukan kebiasaan anak kampung sepertiku untuk datang kedokter bila hanya sakit demam. Karena harus memikirkan lagi biayanya yang itu bisa diselesaikan dirumah, hanya dengan istirahat dan minum obat demam saja. Ketidakhadiran yang ketiga dan keempat yah ini, motorku yang bawel! Dan harus aku nikmati karena memang ini kepunyaanku satu-satunya.
Kalau saja tiap-tiap semester aku ketinggalan satu mata kuliah, akan jadi apa aku nantinya, kapan aku selesai, kapan aku bisa menggantikan orangtuaku bekerja dan masih banyak pertanyaan kapan lainnya. Lalu bagaimana jika aku berhenti?. Lebih tidak mungkin lagi. Aku seorang pejuang, mana mungkin kenal lelah ataupun menyerah. Aku hanya jenuh dengan sistem ini. Aku tidak bisa mengeksplorasikan diriku dengan maksimal.
Masih terngiang dibenakku tentang celotehku sepanjang jalan. Aku merebah kamudian sambil berselonjor diatas kursi kayu diruang tengah, menikmati segelas teh hangat yang hampir tidak manis karena persediaan gula dirumahku sudah habis. Mataku sayup dan mengajakku berlayar kepulau kapuk. Beberapa kalimat masih terus aku ucapkan untuk mengakhiri malamku yang tidak adanya bedanya dengan malam-malam kemarin, tetap sepi.
Gejolak perjuangan yang terus membara dalam diriku masih menggebu-gebu, walau aku sebenarnya penat berjalan dijalan yang penuh onak dan duri ini. aku sendiri tidak mengerti mengapa semangat perjuangan ini terus saja mendera didalam dadaku, agar selalu dan terus berjuang, sebagai sebuah keberpihakan terhadap kebenaran. Terhadap rakyat kecil yang selalu dikalahkan. Padahal sampai detik ini tak sedikitpun suara itu terdengarkan, miris rasanya, tapi inilah hidup, yah. Penuh perjuangan.
Aku akan tetap kuliah dengan segenap jiwa ragaku, pun apa-apa yang ada padaku. Sampai nanti keetika aku lulus dan menjadi kebanggaan negeri ini meski dalm ruang lingkup kecil, setidaknya aku bangga dan sudah membuktikan bahwa aku selalu dan akan terus berusaha, meski satu mata kuliah menaruhku ditempat dan meninggalkanku, aku yakin Esok masih ada waktu.

27 Januari 2012,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar